Menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) membutuhkan persiapan yang terencana. Namun, bukan berarti anak harus menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar. Jadwal yang terlalu padat justru bisa membuat anak kelelahan, kehilangan semangat, dan sulit menyerap materi.
Di sinilah peran orang tua diperlukan. Bukan sekadar mengingatkan anak untuk belajar, orang tua juga perlu membantu menyusun rutinitas yang sesuai dengan usia, kemampuan, dan aktivitas sehari-harinya.
Kebutuhan belajar anak SD tentu berbeda dengan siswa SMP. Anak usia sekolah dasar umumnya membutuhkan pendampingan lebih intensif dan variasi kegiatan, sedangkan siswa SMP mulai dapat dilatih mengatur waktu serta mengevaluasi hasil belajarnya sendiri.
Lantas, bagaimana menyusun jadwal belajar TKA yang efektif tanpa membuat anak merasa terbebani?
1. Kenali Kebutuhan Belajar Anak Terlebih Dahulu
Sebelum menyusun jadwal, orang tua sebaiknya mengetahui materi yang sudah dikuasai dan bagian yang masih menjadi tantangan bagi anak. Caranya bisa melalui hasil ulangan, tugas sekolah, atau latihan soal sederhana.
Langkah ini membantu orang tua menentukan prioritas. Anak yang masih kesulitan memahami konsep matematika, misalnya, mungkin membutuhkan waktu lebih banyak untuk mempelajari dasar-dasarnya sebelum mengerjakan soal yang lebih rumit.
Durasi belajar juga perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan berkonsentrasi. Sebagai titik awal, anak SD dapat mencoba sesi belajar sekitar 20–30 menit, kemudian beristirahat sejenak. Siswa SMP bisa memulai dengan sesi 30–45 menit sebelum mengambil jeda.
Durasi tersebut bukan aturan mutlak. Jika anak masih nyaman dan fokus, waktu belajar dapat disesuaikan. Sebaliknya, ketika konsentrasi mulai menurun, tidak perlu memaksakan anak terus mengerjakan soal.
2. Susun Jadwal Mingguan yang Seimbang
Jadwal belajar akan lebih mudah dijalankan jika anak mengetahui apa yang perlu dipelajari setiap hari. Hindari menumpuk semua mata pelajaran dalam satu sesi karena anak bisa kesulitan mempertahankan perhatian.
Untuk anak SD, jadwal dapat dibuat sederhana dengan satu atau dua target kecil setiap hari. Misalnya, Senin untuk memahami konsep matematika, Selasa untuk latihan membaca dan memahami bacaan, serta Rabu untuk mengulang materi yang masih sulit.
Pada Kamis, anak bisa kembali berlatih matematika dengan variasi soal. Jumat digunakan untuk latihan bahasa dan membahas kesalahan, sedangkan Sabtu menjadi waktu untuk mengerjakan latihan campuran dalam jumlah terbatas. Minggu dapat dimanfaatkan untuk istirahat atau mengulang materi secara ringan.
Sementara itu, siswa SMP bisa mulai menggunakan jadwal yang lebih terstruktur. Senin dan Kamis, misalnya, difokuskan pada matematika. Selasa dan Jumat digunakan untuk latihan bahasa dan pemahaman bacaan. Rabu menjadi waktu untuk memperbaiki materi yang belum dikuasai, sedangkan Sabtu dapat diisi simulasi tes dan evaluasi.
Jadwal ini hanya contoh yang bisa diubah sesuai kebutuhan. Jika anak memiliki kegiatan ekstrakurikuler atau les, waktu belajar perlu disesuaikan agar tidak mengganggu waktu istirahat.
3. Tetapkan Target yang Jelas dan Realistis
Target belajar yang spesifik membantu anak memahami apa yang perlu dicapai. Daripada hanya menulis "belajar matematika", orang tua dapat menetapkan target seperti memahami satu konsep dan menyelesaikan 10 soal latihan.
Jumlah soal tidak perlu dipaksakan jika anak masih membutuhkan waktu untuk memahami materi. Yang lebih penting adalah anak mengerti proses penyelesaiannya, bukan sekadar menyelesaikan sebanyak mungkin pertanyaan.
Berikan kesempatan kepada anak untuk ikut menentukan target hariannya. Dengan begitu, jadwal belajar tidak terasa seperti perintah sepihak, melainkan rutinitas yang disepakati bersama.
4. Selipkan Latihan Soal dan Pembahasan
Persiapan TKA tidak cukup hanya dengan membaca buku atau menghafal rumus. Anak juga perlu berlatih menerapkan pengetahuannya pada berbagai bentuk pertanyaan.
Setelah mengerjakan soal, luangkan waktu untuk membahas jawaban yang keliru. Tanyakan apakah anak belum memahami konsep, kurang teliti membaca pertanyaan, atau terburu-buru saat menghitung.
Pembahasan ini membantu orang tua menentukan materi yang perlu diulang. Jika anak sudah memahami suatu topik dengan baik, waktu belajar berikutnya bisa dialihkan ke bagian lain yang masih membutuhkan perhatian.
Sesekali, anak juga dapat mencoba simulasi dengan batas waktu agar lebih terbiasa mengatur waktu pengerjaan. Namun, latihan semacam ini sebaiknya dilakukan secara bertahap, bukan setiap hari jika justru menambah tekanan.
5. Evaluasi Jadwal Tanpa Membuat Anak Tertekan
Jadwal belajar bukan sesuatu yang harus dijalankan secara kaku. Setelah satu atau dua minggu, orang tua dapat mengajak anak mengevaluasi apakah durasi, waktu, dan target yang ditetapkan sudah sesuai.
Jika anak terus merasa lelah atau sulit fokus, pertimbangkan untuk mengurangi beban belajar atau mengubah waktu pelaksanaannya. Nilai latihan yang belum memuaskan juga tidak selalu berarti anak kurang berusaha. Bisa jadi, ia membutuhkan penjelasan yang berbeda atau lebih banyak waktu untuk memahami konsep tertentu.
Hindari membandingkan hasil anak dengan saudara atau teman sekelasnya. Apresiasi kemajuan kecil, seperti semakin teliti membaca soal atau mulai mampu mengerjakan latihan secara mandiri.
6. Jangan Abaikan Istirahat dan Waktu Bermain
Belajar memang penting, tetapi anak tetap membutuhkan tidur yang cukup, aktivitas fisik, dan kesempatan bermain. Kegiatan tersebut membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan akademik dan kesejahteraan anak.
Pastikan jadwal belajar tidak mengambil seluruh waktu luangnya. Jika anak memiliki hari yang padat di sekolah, sesi belajar di rumah bisa dibuat lebih singkat atau difokuskan pada pengulangan materi ringan.
Persiapan ujian yang baik bukan tentang siapa yang belajar paling lama, melainkan bagaimana anak dapat belajar secara teratur dan memahami materi dengan lebih baik.
Jadwal yang Konsisten Lebih Penting daripada Jadwal yang Padat
Menyusun jadwal belajar TKA untuk anak SD maupun SMP membutuhkan fleksibilitas dan pendampingan orang tua. Dengan target yang realistis, latihan yang terarah, evaluasi berkala, serta waktu istirahat yang cukup, anak dapat mempersiapkan diri tanpa merasa terus-menerus dikejar ujian.
Pada akhirnya, keberhasilan belajar bukan hanya tentang hasil tes. Proses ini juga menjadi kesempatan bagi anak untuk membangun kebiasaan belajar mandiri, mengenali kemampuannya, dan belajar menghadapi tantangan dengan lebih percaya diri.
Sumber:
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah — Tes Kemampuan Akademik 2026 untuk informasi resmi mengenai TKA dan tujuan asesmen.
American Academy of Pediatrics — Developing Good Homework Habits untuk panduan membangun kebiasaan belajar, menentukan waktu belajar, dan memberi anak kesempatan beristirahat.
American Academy of Pediatrics — Back-to-School Tips for Families untuk panduan mengatur lingkungan belajar yang nyaman, mengurangi gangguan, dan memberi jeda saat belajar.
