Bagi generasi Boomers dan Gen X, namanya adalah jaminan mutu sebuah pertunjukan megah. Bagi generasi Milenial, suaranya adalah soundtrack patah hati lewat lagu "Bahasa Kalbu" atau "Sang Dewi". Sementara bagi Gen Z? Mungkin nama Titi DJ lebih lekat dengan jargon "Hati-Hati di Jalan" yang sempat kembali hype gara-gara Tulus, atau sekadar dikenal sebagai "ibunya Stephanie Poetri".
Namun, siapa sangka di balik sosok anggun yang selalu tampil flawless di atas panggung, tersimpan perjalanan karier 40 tahun yang penuh darah, keringat, air mata, dan—tentu saja—drama. Dalam obrolan intimnya bersama Ferdy Element di podcast "All You Can Hear", sang Diva mengupas tuntas sisi kehidupannya yang jarang tersorot kamera. Siapkan kopi Anda, karena cerita ini membuktikan mengapa gelar "Diva" memang sangat pantas disandang oleh seorang Titi Dwi Jayati.
Dari Nama Panggung hingga Keberanian Menolak Label Raksasa
Jauh sebelum "Titi DJ" identik dengan ucapan perpisahan (hati-hati di jalan), nama ini lahir dari sebuah kepraktisan. Titi lahir dengan nama Titi Dwi Jayati. Karena orang-orang kerap salah menyebutnya menjadi "Djayanti" atau "Wijayanti", ia akhirnya menyingkat namanya menjadi Titi DJ. Sang ibu sempat protes, takut rezekinya "nyasar" kalau nama disingkat. Namun, dengan instingnya yang tajam, Titi meyakinkan sang ibu bahwa lebih baik disingkat namun benar, daripada panjang tapi rezekinya lari ke Widayanti atau Wijayanti lain.
Karier Titi tidak dimulai dari karpet merah yang mulus. Ia merintis segalanya dari nol. Mulai dari menari Bali, ikut audisi Bintang Radio dan TVRI, hingga menjadi backing vocal untuk legenda sekelas Vina Panduwinata di grup Suara Mahardika pimpinan Guruh Soekarnoputra. Menariknya, ia bahkan sempat main beberapa film layar lebar dan dikirim ke London sebagai perwakilan Indonesia di ajang Miss World secara "ilegal" (karena saat itu kontes kecantikan dilarang di Indonesia). Hebohnya pemberangkatan Titi inilah yang di kemudian hari memicu berdirinya ajang resmi Puteri Indonesia.
Satu kisah yang paling menunjukkan betapa berprinsipnya Titi sejak muda adalah ketika ia menolak tawaran rekaman dari JK Records. Di usia yang baru menginjak 17 tahun, ia berani mengajukan syarat untuk menggunakan arranger idolanya seperti Addie MS atau Dodo Zakaria. JK Records, yang kala itu merajai industri musik pop catchy, menolak dan menyuruhnya terima beres. Apa reaksi Titi? Ia walkout, meminta sang supir label mengantarnya pulang, dan menolak kontrak tersebut. Sebuah langkah nekat untuk penyanyi pendatang baru, namun terbukti membentuk integritas musikalitasnya di kemudian hari.
Indra Lesmana, Pelarian ke Lenong Rumpi, dan Era Keemasan
Keberhasilan tidak langsung mengetuk pintu. Dua album pertamanya di Jackson Records gagal di pasaran. Semuanya berubah ketika ia bertemu dengan sang prodigy jazz, Indra Lesmana. Hubungan mereka yang berlangsung selama tujuh tahun tak hanya berbuah asmara, tetapi juga melahirkan album ikonik Ekspresi. Bersama Indra, Titi digembleng untuk tidak sekadar bernyanyi, tetapi juga mulai menciptakan lagu sendiri.
Namun, ketika cinta mereka kandas, dunia Titi seakan runtuh. Ia kehilangan rasa percaya diri dalam bermusik dan merasa kesuksesannya hanya karena "ketergantungan" pada Indra. Untuk menyembuhkan luka dan melarikan diri dari tekanan industri musik, Titi justru banting setir menjadi komedian di acara Lenong Rumpi. Ya, Anda tidak salah baca. Sang Diva pernah menjadi pelawak weekly di televisi.
Adalah Hedi Yunus yang akhirnya berhasil menarik Titi kembali ke habitat aslinya. Lewat lagu "Salahkah Aku" di ajang Lomba Cipta Lagu Remaja, Titi kembali menemukan suaranya. Sejak saat itu, rentetan hits tak pernah berhenti mengalir. Mulai dari Bintang-Bintang, Kuingin, hingga Bahasa Kalbu dan Sang Dewi (yang notabene ia ciptakan sendiri nada dan liriknya). Titi membuktikan bahwa ia bisa berdiri tegak dan mencetak rekor tanpa harus berada di bawah bayang-bayang musisi pria.
"Miss Walkout" dan Untold Story di Balik 3 Diva
Tahun 2006, industri musik Indonesia diguncang oleh kolaborasi paling epik dekade itu: 3 Diva. Titi DJ, Krisdayanti (KD), dan Ruth Sahanaya (Uthe) disatukan oleh Erwin Gutawa dan Jay Subyakto. Namun, di balik kemegahan konser tersebut, ada sebuah konflik yang nyaris membuat Titi batal tampil.
Konfliknya terkesan sepele bagi orang awam, namun sangat prinsipil di dunia hiburan profesional: urutan nama dan foto di poster. Sejak awal, telah disepakati bahwa semua materi promosi harus menggunakan sistem alphabetical order (KD, Uthe, Titi). Namun saat poster dicetak, entah karena campur tangan label atau pihak lain, foto KD justru berada di tengah. Titi yang memegang teguh komitmen, langsung meradang.
"Kalau dari awal sudah nggak sesuai kesepakatan, gue malas ikut proyek ini," tegasnya. Ketika promotor beralasan poster sudah terlanjur naik cetak dengan biaya mahal, Titi dengan dingin menjawab, "Potong dari honor gue!" Saking panasnya situasi saat itu, Anang Hermansyah (suami KD kala itu) dikabarkan sempat menghubungi Rossa untuk menggantikan posisi Titi. Beruntung, Erwin dan Jay menolak karena Rossa belum memenuhi syarat pernah menggelar konser tunggal besar. Pada akhirnya, poster direvisi dan konser berjalan sukses. Kejadian ini membuat Titi mendapat julukan Miss Walkout, sekaligus memberikan sinyal keras kepada semua pihak di industri bahwa seorang Titi DJ tidak bisa dipermainkan soal kontrak kerja.
Kebanggaan "I Love You 3000" dan Hidup Damai di Usia 50-an
Sebagai seorang ibu dari empat anak, kehidupan pribadi Titi juga penuh warna. Pernikahannya dengan Bucek Depp memang tak bertahan lama, namun mereka membuktikan bahwa co-parenting yang sehat itu nyata. Anak-anak mereka bahkan menolak wacana rujuk karena tahu karakter kedua orang tuanya bagaikan langit dan bumi (Bucek sang petualang dan Titi sang Diva yang serba teratur).
Namun, senyum Titi melebar paling lepas ketika berbicara tentang putri bungsunya, Stephanie Poetri (Meni). Siapa yang tidak tahu hits global "I Love You 3000"? Lagu yang diciptakan Stephanie saat masa gap year itu viral secara organik tanpa budget promosi miliaran, tanpa campur tangan label, dan yang terpenting: tanpa menggunakan privilege nama Titi DJ.
Titi menceritakan bagaimana surealnya momen ketika kotak masuk email manajernya dibanjiri tawaran dari puluhan label musik dunia, dari Amerika hingga Jepang. Ketika akhirnya Stephanie memilih bergabung dengan 88rising dan terbang ke Amerika, Titi melepasnya dengan rasa bangga yang luar biasa. "Kalau dia di sini, dia hanya akan dilihat sebagai anak Titi DJ. Kalau di luar negeri, nggak ada yang kenal saya. Jadi kesuksesannya murni karena bakatnya," ujar Titi dengan mata berbinar.
Kini, di usianya yang menginjak 58 tahun, Titi DJ telah menemukan versi paling damai dari dirinya. Setelah bertahun-tahun banting tulang menghidupi anak-anaknya sebagai single mother—bahkan sempat harus menjual koleksi tas mahal dan mobil saat sedang sepi tawaran manggung—Titi akhirnya bisa menikmati hidup. Ia berhasil membangun rumah mewahnya sendiri dan memanjakan dirinya, salah satunya lewat prosedur facelift di Korea Selatan.
Operasi yang dilakukannya di usia 56 tahun itu bukan untuk merombak wajah menjadi orang lain, melainkan sekadar mengencangkan kulit sebagai bentuk self-reward. Ia tak perlu meminta izin suami, karena saat ini, ia memang tidak mencari jodoh. "Ya Allah, rezeki aja ya Allah, nggak usah jodoh," selorohnya tertawa. Baginya, kebutuhan primer untuk diperhatikan atau melayani seorang suami sudah usai. Ia nyaman dengan kemandiriannya.
Merayakan 40 tahun perjalanan kariernya, Titi DJ merilis sebuah boxset eksklusif yang berisi kaset, vinyl, parfum, hingga e-money berwajah dirinya. Titi DJ bukan sekadar penyanyi yang beruntung di satu masa. Ia adalah manifestasi dari kerja keras, idealisme musikalitas, ketangguhan seorang ibu, dan otentisitas perempuan modern yang berani mendikte jalannya sendiri. Ia telah menaklukkan segala era, dan jika ada satu hal yang pasti: legacy-nya di industri musik Indonesia tidak akan pernah tergantikan.
