Jika menilik industri perfilman Indonesia saat ini, pertumbuhannya terbilang impresif. Hingga akhir September 2026, jumlah penonton film Indonesia di bioskop tercatat mencapai 79,6 juta orang dari 24 film yang telah tayang. Beberapa film dengan jumlah penonton terbesar antara lain Danur Last Chapter dengan 3,6 juta penonton, serta Ghost in Cell dan Jangan Buang Ibu yang masing-masing meraih 3,3 juta penonton.
Di antara berbagai genre, horor masih menjadi favorit masyarakat Indonesia. Salah satu contohnya adalah Ghost in Cell, film horor garapan Joko Anwar yang sukses membawa perfilman horor Indonesia ke panggung yang lebih luas. Selain ditayangkan di dalam negeri, film ini juga diputar di 86 negara. Bahkan, penayangan perdananya berlangsung di Berlin International Film Festival (Berlinale) pada 13 Februari 2026.
Ghost in Cell mengisahkan teror mematikan di dalam lembaga pemasyarakatan. Namun, di balik unsur horornya, film ini menyimpan satir politik yang cukup kuat. Joko Anwar menyoroti realitas bahwa tahanan koruptor yang memiliki uang dan kekuasaan masih dapat menikmati berbagai fasilitas mewah meski berada di balik jeruji besi. Dalam sejumlah kasus, bahkan tetap mampu menjalankan operasional bisnisnya dari dalam penjara.
Kesuksesan Ghost in Cell dan tingginya jumlah penonton film Indonesia menjadi sinyal positif bagi para investor. Industri film kini tidak lagi dipandang sebagai karya seni semata, tetapi juga sebagai bagian dari ekonomi kreatif yang menawarkan return on investment (ROI) menjanjikan.
Dengan asumsi harga tiket bioskop berada pada kisaran Rp40.000 hingga Rp50.000, maka pendapatan kotor Ghost in Cell berpotensi mencapai Rp132 miliar hingga Rp165 miliar. Di sisi lain, biaya produksi dan promosi film lokal berskala besar umumnya berkisar antara Rp10 miliar hingga Rp20 miliar. Artinya, margin keuntungan yang dihasilkan dapat mencapai ratusan persen hanya dalam 30 hingga 45 hari masa penayangan.
Saat ini, sumber pendapatan film juga semakin beragam. Rumah produksi tidak lagi hanya mengandalkan penjualan tiket bioskop. Platform streaming global semakin agresif mengakuisisi film-film Indonesia yang berkualitas. Nilai lisensi eksklusif pasca-penayangan di bioskop bahkan mampu menutup sebagian hingga seluruh biaya produksi awal.
Selain itu, skema minimum guarantee dari distribusi internasional menjadi sumber pendapatan tambahan yang signifikan. Film seperti Ghost in Cell menunjukkan bagaimana pasar luar negeri dapat memberikan suntikan dana baru bagi rumah produksi. Belum lagi monetisasi kekayaan intelektual melalui pengembangan sekuel, adaptasi, maupun penjualan merchandise yang berpotensi melipatgandakan valuasi film di masa depan.
Bagi investor, mendanai sebuah proyek film tidak lagi sekadar bentuk dukungan terhadap karya seni. Lebih dari itu, keputusan tersebut dapat menjadi langkah strategis untuk memperoleh keuntungan yang terukur. Dominasi film lokal yang mulai menggeser film-film Hollywood di jaringan bioskop nasional menunjukkan bahwa sineas Indonesia telah menemukan titik temu antara kualitas produksi dan selera pasar. Jika tren ini terus berlanjut, industri film Indonesia berpotensi menjadi salah satu sektor ekonomi kreatif yang paling menjanjikan dalam beberapa tahun ke depan.
Image: generate by Gemini