Belajar Kehidupan dari Marshanda: Menyembuhkan Luka Masa Kecil, Bipolar, dan Mendidik Anak

Marshanda sudah memulai kariernya di dunia hiburan sejak masih anak-anak. Di balik kesuksesan dan senyum cerianya di layar kaca, perempuan yang akrab disapa Caca ini ternyata menyimpan cerita panjang. Ia harus melewati masa sulit, menyembuhkan luka batin, hingga akhirnya bisa berdamai dengan keadaannya saat ini.

Belum lama ini, Marshanda berbincang dari hati ke hati dengan Nikita Willy dalam podcast berjudul Mom's Corner. Obrolan dua ibu ini sangat hangat dan membahas hal-hal penting yang dekat dengan keseharian kita, mulai dari kesehatan mental, cara mencintai diri sendiri (self-love), sampai gaya mendidik anak (parenting).

Bagi Anda yang sedang mencari cara untuk lebih berdamai dengan diri sendiri, rangkuman obrolan Marshanda dan Nikita Willy ini bisa menjadi inspirasi yang berharga.

Tiga Kata untuk Marshanda Saat Ini

Di awal obrolan, Nikita Willy meminta Marshanda mendeskripsikan dirinya dalam tiga kata. Jawaban Caca sangat jujur: Real (nyata atau apa adanya), Vulnerable (berani menunjukkan sisi rentan/kelemahan), dan Berani.

Banyak orang mengira menjadi rentan atau menangis adalah sebuah kelemahan. Tapi bagi Caca, berani jujur bahwa kita sedang tidak baik-baik saja justru membutuhkan keberanian besar. Itulah langkah pertama untuk bisa menerima diri sendiri secara utuh.

Kesepian Waktu Kecil dan Beda "Bahasa Cinta"

Masa kecil Marshanda terlihat sangat menyenangkan karena ia terkenal dan punya banyak penggemar. Namun nyatanya, saat remaja ia justru merasa kesepian. Caca merasa kurang mendapat perhatian dan validasi dari ibunya.

Setelah dewasa, Caca baru menyadari bahwa masalahnya hanya terletak pada perbedaan love language (bahasa cinta). Bahasa cinta Caca adalah words of affirmation atau kata-kata pujian. Ia butuh diyakinkan lewat kata-kata. Sebaliknya, bahasa cinta sang ibu adalah acts of service atau tindakan nyata.

Ibunya memang jarang memuji atau memeluk, tapi beliau selalu banting tulang, berkorban, dan memastikan semua kebutuhan Caca terpenuhi. Setelah menyadari hal ini, Caca berhenti menuntut ibunya untuk menjadi "sempurna" dan mulai menerima kasih sayang ibunya apa adanya.

Berdamai dengan Masa Lalu Lewat Reframing

Marshanda adalah salah satu artis pertama di Indonesia yang berani terbuka soal kesehatan mentalnya. Pada usia 17 tahun, ia didiagnosis mengidap Bipolar. Ia berani bicara ke publik karena tahu betul rasanya berjuang sendirian dan merasa tidak ada yang memahami.

Alih-alih menyalahkan keadaan, Caca melihat Bipolar ini sebagai teguran agar ia belajar mencintai dirinya sendiri. Ia juga membagikan satu metode penyembuhan jiwa yang sangat ampuh, yaitu reframing (mengubah sudut pandang).

Caca bercerita tentang memori buruk saat ia kelas 2 SD. Dulu, ia dimarahi habis-habisan oleh ibunya sampai jam 2 pagi hanya karena nilai ujian yang jelek. Kejadian itu membuatnya trauma.

Namun, saat dewasa dan menjalani terapi, Caca mencoba melihat dari kacamata sang ibu. Waktu itu ibunya adalah ibu tunggal berusia 26 tahun, harus membiayai tiga anak, merawat nenek yang sakit, dan menghadapi tekanan keluarga. Setelah membayangkan beratnya beban itu, rasa marah Caca hilang dan berubah menjadi rasa kasihan. Ia sadar, ibunya memarahi dirinya karena saat itu ibunya sedang sangat stres dan butuh bantuan.

Makna Self-Love yang Sebenarnya

Obrolan ini juga membahas tentang self-love atau mencintai diri sendiri. Banyak orang salah paham dan mengira self-love itu sama dengan egois.

Caca memberi perumpamaan yang sangat mudah dipahami. Mencintai diri sendiri itu ibarat mengisi daya (ngecas) baterai ponsel. Kalau baterai kita kosong dan kita sendiri tidak bahagia, bagaimana mungkin kita bisa membahagiakan anak, pasangan, atau keluarga? Kita harus memastikan diri kita "penuh" dan bahagia dulu, baru kita bisa memberikan energi positif ke orang lain.

Lalu, bagaimana kalau kita sedang merasa sedih dan kehilangan arah? Saran Caca sangat unik: cobalah membantu orang lain. Membantu orang lain terbukti bisa membuat kita merasa lebih berguna dan mengembalikan rasa percaya diri.

Co-Parenting dan Kesalahan yang Merusak Anak

Topik yang tidak kalah menyentuh adalah soal Sienna, anak semata wayang Marshanda. Setelah bercerai dengan Ben Kasyafani, hak asuh anak jatuh ke tangan Ben. Selama 10 tahun, Caca hanya bisa bertemu Sienna di akhir pekan.

Caca belajar membedakan arti "menyerah" dan "berserah". Menyerah berarti putus asa. Sedangkan berserah berarti percaya bahwa Tuhan sedang menuntun kita melewati badai dan semua akan baik-baik saja pada waktunya. Kesabaran itu berbuah manis. Kini, Sienna yang sudah remaja meminta sendiri untuk tinggal bersama Caca, dan Ben menyetujuinya tanpa ada keributan.

Marshanda dan Nikita Willy sepakat pada satu hal penting soal perceraian: hal yang paling merusak mental anak bukanlah perpisahan orang tuanya, melainkan saat anak melihat ayah dan ibunya saling membenci dan bermusuhan.

Itulah kenapa Caca dan Ben sangat menjaga kekompakan (co-parenting). Mereka tidak pernah menjelekkan satu sama lain di depan Sienna. Hasilnya, Sienna tumbuh menjadi anak yang sangat pengertian. Sienna bahkan pernah berkata kepada Caca, "Aku nggak butuh ibu yang sempurna, aku butuh ibu yang ada." Kalimat ini menjadi bukti bahwa kehadiran dan perhatian orang tua jauh lebih penting dari sekadar menjadi "sempurna".

Menulis Buku Harian untuk Menjaga Kewarasan

Sebagai penutup, Caca membagikan rahasianya dalam menghadapi stres dan komentar jahat di internet. Caranya sederhana: rajin menulis buku harian (journaling).

Caca sudah menulis buku harian sejak kecil. Kalau sedang merasa jatuh atau kehilangan semangat, ia akan membaca lagi tulisan-tulisannya di masa lalu. Dari situ ia sadar, ternyata ia pernah melewati masalah yang jauh lebih berat dan terbukti selalu berhasil melewatinya.

Kisah Marshanda di podcast ini menjadi pengingat bagi kita semua. Setiap orang punya lukanya masing-masing. Namun, kita selalu punya pilihan untuk menyembuhkan luka tersebut dan menjadikannya kekuatan untuk hidup yang lebih baik.


Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak