Persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan orang tua, terutama bagi anak kelas 6 SD dan kelas 9 SMP. Pada tahap ini, anak tidak hanya perlu memahami materi pelajaran, tetapi juga belajar mengatur waktu, menghadapi tantangan, dan membangun kepercayaan diri.
Meski demikian, orang tua tidak perlu menjadikan TKA sebagai sumber tekanan di rumah. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjelaskan bahwa TKA bukan penentu kelulusan. Tes ini dirancang untuk memberikan gambaran capaian akademik siswa secara terstandar dan membantu memetakan kemampuan belajar mereka.
Informasi tersebut dapat diperiksa melalui portal resmi TKA Kemendikdasmen. Dengan memahami tujuan tes, orang tua dapat mendampingi anak secara lebih proporsional, tanpa menganggap hasil ujian sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Lantas, bagaimana cara mendukung persiapan TKA anak di rumah? Berikut enam langkah yang bisa diterapkan.
1. Pahami Materi TKA dan Kenali Kebutuhan Belajar Anak
Langkah pertama adalah memahami materi yang akan diujikan sesuai jenjang pendidikan anak. Berdasarkan informasi resmi Kemendikdasmen, TKA untuk jenjang SD/MI dan SMP/MTs mencakup dua mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia dan Matematika.
Orang tua dapat mempelajari kerangka asesmen dan contoh soal melalui Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen. Informasi tersebut dapat menjadi panduan untuk menentukan materi yang perlu dipelajari bersama anak.
Setelah mengetahui cakupan materi, ajak anak mengidentifikasi bagian yang sudah dikuasai dan bagian yang masih terasa sulit. Misalnya, anak mampu melakukan perhitungan dasar, tetapi masih kesulitan memahami soal cerita matematika.
Dalam kondisi tersebut, orang tua bisa mengajak anak membaca soal secara perlahan, mengenali informasi penting, kemudian menentukan langkah penyelesaiannya. Pendekatan serupa dapat diterapkan pada Bahasa Indonesia dengan membiasakan anak membaca teks dan menjelaskan gagasan utamanya.
Dengan cara ini, kegiatan belajar menjadi lebih terarah daripada sekadar mengerjakan banyak soal tanpa mengetahui kebutuhan anak.
2. Susun Jadwal Belajar yang Teratur dan Fleksibel
Jadwal belajar membantu anak membangun rutinitas sebelum menghadapi ujian. Namun, jadwal yang baik bukan berarti memenuhi seluruh waktu luang dengan kegiatan akademik.
Orang tua dapat berdiskusi dengan anak untuk menentukan waktu belajar yang paling nyaman, misalnya setelah beristirahat sepulang sekolah. Tetapkan target sederhana untuk setiap sesi, seperti memahami satu konsep matematika atau mengerjakan beberapa soal bacaan.
Durasi belajar perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan konsentrasi anak. Jika mulai kehilangan fokus, anak dapat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan kegiatan.
Pastikan jadwal tersebut tetap menyediakan waktu untuk bermain, berolahraga, tidur, dan berinteraksi dengan keluarga. Keseimbangan aktivitas membantu anak menjalani persiapan ujian tanpa merasa bahwa seluruh hidupnya hanya berkaitan dengan belajar.
3. Berikan Dukungan Tanpa Membandingkan Anak
Setiap anak memiliki kemampuan, kecepatan belajar, dan kebutuhan pendampingan yang berbeda. Karena itu, membandingkan hasil latihan anak dengan saudara atau teman sebaya bukan pendekatan yang tepat untuk membangun motivasi.
Alih-alih hanya menanyakan jumlah jawaban benar, orang tua dapat bertanya, “Bagian mana yang menurutmu paling sulit?” atau “Apa yang ingin kamu pelajari lagi besok?”
Pertanyaan tersebut membantu anak menyampaikan kesulitannya tanpa takut disalahkan. Ketika anak menjawab keliru, ajak ia meninjau kembali proses berpikirnya dan mencari tahu bagian yang belum dipahami.
Berikan apresiasi secara spesifik terhadap usaha anak. Misalnya, pujilah keberaniannya mencoba soal yang sulit atau konsistensinya mengikuti jadwal belajar.
Dukungan seperti ini membantu anak memahami bahwa proses belajar bukan hanya tentang memperoleh nilai, tetapi juga tentang mengembangkan kemampuan secara bertahap.
4. Gunakan Latihan Soal untuk Mengetahui Kemajuan
Latihan soal dapat membantu anak mengenali bentuk pertanyaan sekaligus mengetahui materi yang masih perlu diperbaiki. Untuk memulainya, orang tua bisa menggunakan contoh soal dari portal resmi TKA.
Dampingi anak saat membahas hasil latihan, tetapi jangan selalu memberikan jawaban secara langsung. Jika anak melakukan kesalahan, ajak ia membaca ulang pertanyaan, menjelaskan cara berpikirnya, lalu mencoba menemukan penyelesaian.
Orang tua juga dapat membuat catatan sederhana mengenai materi yang sudah dipahami dan bagian yang perlu diulang. Catatan ini berguna untuk menentukan target belajar berikutnya.
Latihan berbatas waktu boleh dilakukan sesekali setelah anak memahami materi dasar. Namun, jangan menjadikan kecepatan sebagai prioritas sejak awal karena anak tetap membutuhkan waktu untuk membangun pemahaman yang kuat.
Perlu diingat, TKA bukan penentu kelulusan. Karena itu, hasil latihan sebaiknya digunakan sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk memberikan hukuman atau tekanan kepada anak.
5. Jaga Kesehatan Emosional dan Komunikasi di Rumah
Persiapan ujian bisa menimbulkan kecemasan, terutama ketika anak merasa takut mengecewakan orang tua. Karena itu, penting untuk membangun komunikasi yang terbuka selama masa belajar.
Luangkan waktu untuk mendengarkan perasaan anak. Jika ia mengaku khawatir, jangan langsung menganggapnya berlebihan. Tanyakan apa yang membuatnya cemas dan bantu mencari solusi yang bisa dilakukan bersama.
Hindari ancaman, seperti mengatakan bahwa masa depan anak akan buruk jika hasil tesnya tidak memuaskan. Sebaliknya, jelaskan bahwa ujian merupakan salah satu cara untuk mengetahui kemampuan akademik dan bagian yang masih perlu ditingkatkan.
Orang tua juga perlu memperhatikan perubahan perilaku, seperti anak yang terus-menerus merasa tertekan atau kesulitan beristirahat akibat tuntutan belajar. Jika kecemasan berlangsung lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari, pertimbangkan berkonsultasi dengan guru BK atau tenaga profesional yang sesuai.
Dukungan emosional bukan berarti menghilangkan semua kesulitan anak, melainkan membantu mereka menghadapi tantangan dengan rasa aman.
6. Bangun Kemandirian Belajar secara Bertahap
Pendampingan orang tua sebaiknya membantu anak menjadi lebih mandiri, bukan membuatnya selalu bergantung pada instruksi orang dewasa.
Untuk anak SD, orang tua mungkin perlu membantu mengingatkan jadwal, menyiapkan bahan belajar, dan menjelaskan instruksi yang belum dipahami. Sementara itu, anak SMP dapat mulai dilibatkan dalam penyusunan jadwal, penentuan target, dan evaluasi hasil latihan.
Berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba menyelesaikan masalah sendiri sebelum meminta bantuan. Jika menemui kesulitan, dorong ia menjelaskan bagian yang belum dipahami agar bantuan yang diberikan lebih tepat.
Orang tua juga bisa mengajak anak mengevaluasi kegiatan belajar setiap akhir pekan. Diskusikan apa yang sudah berjalan baik dan apa yang perlu diperbaiki tanpa menjadikan percakapan tersebut sebagai sesi menghakimi.
Pada akhirnya, mendampingi anak menghadapi TKA bukan sekadar memastikan mereka menguasai materi Bahasa Indonesia dan Matematika. Proses ini juga menjadi kesempatan untuk melatih kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepercayaan diri.
Dengan jadwal yang realistis, latihan yang sesuai kebutuhan, serta komunikasi yang hangat, orang tua dapat membantu anak mempersiapkan diri secara lebih nyaman. Hasil tes memang penting sebagai informasi capaian akademik, tetapi kesehatan, perkembangan, dan proses belajar anak tetap perlu menjadi perhatian utama.

Berkomentar dengan akun Google, nama, atau secara anonim.