Di tengah turbulensi ekonomi global dan domestik pada tahun 2025—di mana daya beli konsumen cenderung melemah—laporan Kuartal III (Q3) Unilever Group mencerminkan pelajaran penting tentang ketahanan. Sementara secara global mereka stabil, di Indonesia, Unilever (UNVR) mengaktifkan strategi pertahanan yang menunjukkan mengapa mereka mampu bertahan lebih dari 91 tahun di pasar yang sangat dinamis ini.
1. Fondasi Global: Mesin Pertumbuhan yang Sehat
Sebelum melihat dinamika domestik, penting untuk memahami posisi global Unilever Group. Laporan Q3 2025 menunjukkan pertumbuhan penjualan dasar (Underlying Sales Growth/USG) sebesar 3,9%, mencapai Turnover sebesar €14,7 Miliar. Pertumbuhan ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari kekuatan di sektor tertentu:
Prioritas Wellbeing: Divisi Beauty & Wellbeing dan Personal Care memimpin pertumbuhan, mencatatkan USG 5,1% dan 4,1%. Konsumen, terlepas dari tantangan ekonomi, tetap memprioritaskan produk yang membuat mereka merasa baik—mulai dari sunscreen hingga skin care. Ini adalah bukti bahwa sektor wellness telah menjadi kebutuhan, bukan lagi sekadar kemewahan.
Pertumbuhan Merata: Tidak hanya perawatan diri, bahkan divisi Ice Cream mencatat pertumbuhan 3,7%, menunjukkan bahwa produk yang dianggap indulgence pun masih diminati.
Secara global, Unilever menunjukkan disiplin untuk terus tumbuh, yang menjadi modal bagi operasi mereka di pasar berkembang seperti Indonesia.
2. Strategi "Seribu Rupiah": Benteng Pertahanan Lokal
Di Indonesia, tantangannya berbeda: daya beli konsumen sedang diuji. Konsumen menjadi lebih sensitif terhadap harga dan memilih produk yang paling esensial.
Manajemen Unilever Indonesia mengakui tantangan ini, dan respons mereka adalah kuncinya: fleksibilitas portofolio harga.
Kekuatan UNVR terletak pada kemampuannya melayani spektrum konsumen yang sangat luas. Mereka menyediakan kemasan produk terjangkau (SKU) mulai dari Rp500, Rp1.000, hingga Rp2.000 dalam bentuk sachet. Strategi ini memastikan bahwa saat dompet konsumen menipis, produk Unilever masih dapat dijangkau.
Terkait isu nol tarif kosmetik AS yang berpotensi membanjiri pasar, Unilever memilih untuk fokus pada keunggulan merek yang tak tertandingi. Mereka berpendapat bahwa merek lokal mereka, yang telah dicintai dan dipercaya selama 91 tahun, akan tetap menjadi pilihan utama konsumen Indonesia, mengalahkan gempuran produk impor. Ini adalah pelajaran tentang kekuatan trust dan brand loyalty dalam jangka panjang.
Strategi ini menunjukkan bahwa dalam bisnis FMCG, ketahanan di pasar negara berkembang seringkali ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk menyediakan solusi affordable di tingkat dasar.
3. Efisiensi dan Fokus: Menyusun Kekuatan untuk Masa Depan
Di balik strategi pasar, Unilever juga melakukan manuver korporasi yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan value jangka panjang:
Unilever Indonesia menjalankan program pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp2 triliun. Meskipun baru sekitar 14% yang telah direalisasikan, aksi ini mengirimkan sinyal kepercayaan kepada pasar bahwa manajemen menganggap harga saham mereka undervalued dan berkomitmen meningkatkan value bagi pemegang saham.
Secara global, Unilever sedang memproses pemisahan divisi Ice Cream mereka. Langkah besar ini diperkirakan akan membuat Unilever lebih gesit dan fokus dalam mengelola portofolio Beauty & Wellness dan Home Care mereka. Detail dampak pemisahan ini terhadap laporan keuangan UNVR akan menjadi fokus penting bagi investor pada 23 Oktober 2025.
Kinerja Unilever di Kuartal III 2025 bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang bagaimana sebuah korporasi raksasa menggunakan fleksibilitas harga, kekuatan merek yang tak tergoyahkan, dan efisiensi keuangan sebagai resep utama untuk menjamin keberlanjutan.
Bagi kita yang mengikuti dinamika pasar, ini adalah studi kasus tentang bagaimana sebuah bisnis dapat tetap menjadi pilihan utama di keranjang belanja, bahkan saat daya beli masyarakat sedang menghadapi tantangan terberat.
